Sabtu, 02 Agustus 2008

Foto Usia 1 Tahun Ayah dan Anak

Foto yang atas. Itu foto saya waktu kecil.
Waktu ngerayain ulang tahun 1 tahun.
Maksudnya yang pertama ultahnya.
Itu terjadi 27 tahun lampau alias silam.
Foto yang dibawahnya. Itu foto anak saya waktu masih kecil.
Iya memang sekarang pun dia masih anak kecil.
Foto itu pun diambil 4 bulan lalu. Saat beliau ultah pertamanya.
Jadi kedua foto itu adalah pada moment yang sama.
Kesamaan lain adalah kami sama-sama tampan.
Karena Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk.
Begitu Kata Pak Ustadz lupa namanya di khotbah Jumatan.
Saya jadi merenung. Merenung Fadel anakku itu.
Bagaimanakah keadaan dia 27 tahun akan datang.
Apakah dia seganteng ayahnya saat ini? Atau lebih cakep.
Tapi lebih penting adalah semoga dia jauh lebih sholeh.
Semoga dia mendapatkan kedudukan yang mulia.
Dipandang oleh manusia dan lebih penting oleh Allah Yang Maha Mulia.
Amin. Ya Robbal alamin


(Jakarta, 3 Agustus 2008)
(Met ulbul ke-16 bulan anakku Fadel di Cilacap sana)

Kamis, 17 Juli 2008

Vandaria Wars: React - Action

" Walau kau ikat tanganku, bungkam mulutku, jegal langkahku, tutup mataku, kurung tubuhku...semua percuma! Semua mimpi-mimpiku tetap ada! "

Copyright Ben Olson (Midway)

Kamis, 10 Juli 2008

Kamu adalah Kaos Oblong yang Kamu Pakai

Tulisan ini seperti mengikuti slogan. Yaitu slogan "you are what you eat". Gara-gara memperhatikan orang-orang di Bandung seminggu ini. Pemuda, pemudi, bapak2, ibu2, pedagang kaki lima, bos, anak sekolah, anak jalanan mereka pakai kaos oblong. Kaos oblong alias t-shirt. Mungkin memang warna, gambar, corak, motif kaos oblong yang dipakai mencerminkan pribadi manusia yang memakai. Pemakai kaos tim sepakbola pasti pemain bola amatiran paling tidak suka menyimak siaran sepakbola di TV. Yang pakai kaos band underground pasti suka musik sejenis. Tapi kayaknya ada juga deh anak band yang pake kaos gambar Che Guevara. Mungkin disangkanya seniman semacam (Alm) Harry Roesli. Anak cinta kampus pake kaos yang ada tulisan almamaternya. Anak gaul pake kaos pake kaos merk gaul. Anak jalanan pake kaos yang paling dekil. Anak modis selalu pake kaos sesuai tuntutan trend dan jaman. Suka banyak lihat dijalan cewek-cewek pake kaos starbucks. Walau mungkin harga kaos itu murah dari harga kopi starbucksnya sendiri. Promosi gratis tuh. Soal murah kaos merk adidas bisa dijual di PKL. PKL itu pedagang kaki lima dengan sangat murah. Kaos aspal kali ya. Kaos partai adalah seragam kerja mamang tukang becak. Aktivis dakwah ga mungkin mau pake kaos gambar sarah azhari (emang ada?) atau pake kaos tulisannya merek bir. Itu temen kost saya initialnya AH kependekan dari anes husen. Pernah dikasih sama orang kaos tulisannya USA. Dengan cerdik tulisan itu disilang pake spidol. Soalnya dia lagi mau pergi ke Salman. Masjid Salman maksudnya. Daripada di liatin orang ya Nes. Wah silahkan deh direnungkan urusan kaos yang ga penting ini. Jadi jangan pake kaos oblong yang tiada sesuai dengan hati kita yah. Dadah Wassalam.
(Bandung, 10 Juli 2008)

Kamis, 19 Juni 2008

Boston Celtics Juara NBA 2008

Tentang NBA. National Basketball America. Permainan bola basket. Tahun ini juaranya Boston Celtics yang mengalahkan Los Angeles Lakers 4-2 dalam best of seven series. Sebenarnya saya menyukai Lakers. Itu dari jaman dulu. Tapi ya sudah lah tidak apa-apa. Kobe Bryant sudah mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Perlu dicatat bahwa dia MVP Regular Season tahun ini.Ah tidak usah dicatatlah. Itu tidak penting. Jadi selamat ajalah buat para pemain Celtics.Itu si Kevin Garnett, Paul Pierce dan Ray Allen yang memang belum pernah ngerasain cincin juara NBA selama karirnya.

Kamis, 05 Juni 2008

Seniman Monolog Bis Kota

Kemarin sore selesai jam kerja tidak langsung pulang. Itu saya main Futsal sama temen-temen kantor. Main di Kick Spot deket-deket juga sama kantor. Itu bola futsal lagi ga enak. Kempes kurang angin. Setelah main futsal saya lapar. Terus saya makan. Abis makan dan solat Isya baru saya pulang. Pulang naik Bis P6 menuju Cawang. Itu bis sudah penuh. Ah itu ternyata ada satu bangku kosong. Saya duduk di bangku itu. Kira-kira ditengah bis. Di bagian depan Bis ada seorang pengamen. Oh bukan pengamen ternyata. Itu ada lelaki yang sedang melakukan teater tunggal. Dia ber-monolog, itu bukan sih istilahnya? Yah tapi kamu ngerti kan.
Wah tadinya saya sudah tidak menghiraukan. Tetapi ternya orang itu bisa menarik perhatian. Itu orang jelas sekali berasal dari Jawa Timur. Logatnya khas banget. Jadi inget temen kuliahku si Hadi yang dari Magetan. Hadi 2 minggu lalu menikah. Tapi jauh di Lumajang. Saya tidak bisa hadir. Maaf ya Di. Iya ga apa-apa. Paling begitu kata Hadi Kenthon. Kenthon itu panggilannya.
Sekira 10 menit saya menyimak cerita yang dibawakannya. Mengenai hubungan antara seorang ayah dan anaknya. Hubungan itu terlalu dingin sejak si anak masih kecil. Setelah si anak dewasa dan merantau ke luar kota barulah kebekuan itu mencair. Hubungan pun menjadi mulai akrab dan saling kangen satu sama lain. Namun sayangnya tidak lama kemudian anaknya itu mengalami kecelakaan lalu lintas saat mengendarai motor. Sepeda motor maksudnya. Kakinya harus diamputasi. Itu dipotong sebagian. Dan mengalami gangguan mental. Degh. Saya langsung teringat anak lelakiku. Fadel. Memang sekarang sih hubungan saya dan Fadel dekat. Setiap petang (petang=sore/maghrib) Fadel menanti kepulangan saya dari tempat kerja. Liat wajahnya yang ceria sumringah aja bikin capek saya hilang. Sebenernya lebih hilang lagi kalo udah dipijitin istri saya sih. Nah saya takut Fadel beranjak dewasa hubungan saya sudah tidak sehangat saat ini. Mungkin saya semakin sibuk dengan pekerjaan. Ataupun Fadel yang lebih senang menghabiskan waktu dengan komunitasnya. Yah gara-gara monolog itu saya jadi termenung (gimana sih yang namanya termenung itu). Maksudnya kepikiran bangetlah. Tetap seniman jalanan ini juga butuh makan. Ini bisnis juga brur. Makanya begitu dia mengedarkan tempat untuk menaruh uang pada penumpang. Saya rogoh itu saku baju dan keluarin beberapa lembar uang ribuan. Yang ternyata malah lebih mahal dari ongkos naik bisnya. Ga apa-apalah sekali-kali. Lagian itu orang sudah bikin saya bersyukur sama Allah. Dan kalo saya yang bermonolog seperti dia, rasanya agak kecewa deh kalo cuma dihargai beberapa ribu dalam sekali tampil.

Senin, 26 Mei 2008

BELAJAR DARI ANAK 2 : PIRING PECAH

Hari Minggu siang saya dan keluarga makan di padang. Di rumah makan padang maksudnya. Saya dan istri saya makan duluan. Sedangkan mbak pengasuh anak saya makan belakangan. Karena dia harus menjaga dulu anak saya Fadel. Kenapa Fadel harus dijaga? Karena dia masih kecil. Baru 13 bulan usianya. Fadel lagi lincah-lincahnya. Semua barang ingin dipegangnya. Rasa keingintahuannya besar. Fadel belum lancar jalan. Masih tertatih-tatih. Ketika Fadel berdiri diatas kursi dekat meja makan rumah makan itu. Firasat saya mengatakan bahwa piring-piring harus dijauhkan dari jangkauan Fadel. Ataupun Fadel yang harus dijauhkan dari piring-piring berisikan berbagai masakan padang itu. Dan benar saja tidak sampai semenit setelahnya. Fadel telah menarik sebuah piring dari atas meja. Berhubung itu piring beling. Bukan piring kertas. Serta merta (baru kali ini saya gunakan kata ”serta merta”) piring itu pecah begitu mendarat di lantai. Posisi saya waktu itu adalah lagi nikmat-nikmatnya makan kikil. Hampir saja emosi jiwa saya keluar. Untunglah saya segera sadar. Saya kendalikan diri saya. Saya tatap mata anak lelakiku itu. Ada perasaan bersalah dikedua bola matanya. Kemudian dia berkata ”..cah” (mungkin maksudnya ”pecah”). Saya pun langsung mengirimkan padanya senyuman seraya berkata ” iya ga apa-apa Del, nanti piringnya diberesin” Lalu pancaran keceriaan tersingkap lagi dari wajahnya menggantikan raut ketakuan dan rasa bersalahnya. Beberapa saat kemudian Fadel pun tertawa dan bercanda lagi seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Sekali lagi Fadel telah menjadi sarana Saya untuk belajar. Kali ini saya belajar apa yang namanya KESABARAN. Saya orang yang kurang bersabar. Coba seandainya jika amarah saya keluar waktu itu. Rugilah saya. Piring bisa diganti. Tetapi luka hati yang mungkin tertanam dalam jiwa Fadel akan lama membekas. Hal kedua yang saya belajar adalah memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang dilakukan. Fadel telah menunjukkan pada saya bahwa membuat kesalahan itu tidak masalah. Selama kita mengakui dan memperbaikinya. Terima kasih Fadel, Papi belajar lagi dari kamu.

Kamis, 15 Mei 2008

Belajar dari Anak I

Anak-anak adalah makhluk yang ajaib. Cobalah ingat waktu kita masih anak-anak. Sebagian besar dari kita akan tersenyum mengingat tingkah laku kita sendiri. Saya termasuk anak yang banyak terkenang ceritanya. Berbagai kejadian tragis seperti keserempet becak, kaki kejepit pipa ataupun membuat kompor meleduk di dapur nenek saya. Ada juga kejadian haru saat kakekku meninggal dunia saat saya baru mengenal dekat dengan beliau. Tentu ada juga cerita bahagia dan senang dalam keluarga kami.
Sekarang saya dititipi Allah seorang anak laki-laki. Secara fisik mirip-mirip dengan saya waktu kecil. Saya amati perkembangan anakku dari hari ke hari. Walau kadang aku pulang kerja dia sudah tidur. (Maafkan Papi ya Fadel). Tadinya saya berpikir dan berusaha bagaimana caranya mendidik Fadel anakku dengan cara terbaik yang dapat kulakukan. Tetapi belakangan paradigma itu sedikit berubah. Ternyata Fadel pun tak disadari telah mendidik Saya. Dia telah membuat Saya harus bisa menjadi lelaki yang bertanggungjawab atas keluarga. Fadel juga menguji kesabaran dan ketabahanku.
Ternyata kita harus banyak belajar dari anak-anak.Mereka bisa tertawa lepas. Mereka memaafkan orang lain dan dirinya sendiri. Mereka melupakan kesalahan hari kemarin. Mereka tidak merisaukan hari esok. Mereka benar-benar menikmati hari ini, saat ini, moment ini. Suatu hal yang sulit dilakukan orang yang telah beranjak dewasa termasuk saya.